Jumat, 28 September 2012

Kisah tentang kematian seorang wanita pemesan neraka

Kisah tentang kematian seorang wanita pemesan neraka berikut ini mudah-mudahan dapat menjadi ibrah dan pelajaran berharga dan tidak akan pernah terjadi pada salah seorang di antara kita. Sebuah kisah di musim panas yang menyengat.
Seorang kolumnis majalah Al-Manar  di Mesir pada sekitar tahun 2002, mengisahkan. Musim panas merupakan ujian yang cukup berat, terutama bagi muslimah untuk tetap mempertahankan pakaian hijabnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan akhlak. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa dijaga. Jilbab bisa sebagai multifungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, sekitar 300-an Km antara Cairo-Alexandria; di sebuah mikrobus, atau kalau orang Indonesia di Mesir sering menyebutnya Eltramco (karena merek kendaraannya mayoritas ELTRAMCO). Ada seorang permpuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat karena pakaiannya yang sangat minim dan karena menentang kesopananan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar.
Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak baik bagi dirinya, di samping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.
Tahukah Anda apa respons perempuan muda tersebut? dengan ketersinggungan yang sangat, ia mengekspresikan kemarahannya. Karena merasa privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogratif seseorang.
“jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya tempat di neraka Tuhan Anda!!” Sebuah respons yang sangat frontal, dan sang bapak pun hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah.
Mendengar jawaban wanita tersebut, penumpang lain kontan bergumam “Allahu Akbar!” Allah Mahabesar!” Allah Mahabesar!”
Detik-detik berikutnya suasana pun hening. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpinya. Tak terkecuali perempuan muda itu. Hingga sampailah perjalanan di penghujung tujuan. Diterminal akhir mikrobus Alexandria. Orang menyebutnya “Mahatthah Mashr” atau  ” Terminal Kota” . Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang terlihat tertidur. Ia berada didekat pintu keluar. “ bangunkan saja!” begitu kira-kira permintaan para penumpang.
Tahukah apa yang terjadi. Perempuan muda tersebut benar-benar tak bangun lagi. Ia menemui ajalnya sebagaimana permintaannya. Dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk disampingnya.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menentang Allah SWT. Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya, seandainya tiap orang bisa menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat, seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yang buruk, seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah, sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang terus-menerus mendekat kepada-Nya.
Dan ketika peristiwa kematian tersebut benar-benar datang, maka relakanlah, sebab sikap rela atau ridha adalah sikap yang harus diambil ketika suatu peristiwa telah selesai terjadi. Kematian dan Kehidupan tak akan datang sebagaimana tak akan pergi tanpa seizin Allah SWT. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’un ( Kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kita dikembalikan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar